NANGGROVA.MY.ID | MANILA, FILIPINA – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin (9/6/2026) mengakibatkan sedikitnya 35 orang meninggal dunia dan lebih dari 200 lainnya mengalami luka-luka. Korban jatuh akibat runtuhnya bangunan, tanah longsor, serta dampak tsunami yang menyusul setelah gempa terjadi.
Berdasarkan laporan otoritas setempat, gempa terjadi pada pukul 07.37 waktu setempat dengan pusat gempa berada di laut lepas Pulau Mindanao pada kedalaman sekitar 33 kilometer. Guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Kota General Santos, Sarangani, South Cotabato, Davao Occidental, dan beberapa kawasan pesisir lainnya.
Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi di Kota General Santos. Sejumlah bangunan, pertokoan, dan fasilitas umum mengalami kerusakan berat hingga roboh. Infrastruktur penting juga terdampak, mengganggu aktivitas masyarakat dan proses evakuasi.
Selain gempa, tsunami setinggi sekitar satu meter menerjang beberapa wilayah pesisir. Gelombang tersebut merusak rumah-rumah warga dan memaksa ribuan penduduk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Direktur Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina, Teresito Bacolcol, menyebut gempa ini sebagai salah satu yang terkuat yang melanda Filipina sepanjang tahun ini. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru kembali ke bangunan yang mengalami kerusakan karena masih berisiko runtuh akibat gempa susulan.
Menanggapi bencana tersebut, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan pembatalan kegiatan belajar mengajar di daerah terdampak serta menginstruksikan seluruh lembaga terkait untuk mempercepat proses evakuasi, pencarian korban, dan penyaluran bantuan kemanusiaan.
Hingga kini, tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap sejumlah warga yang diduga terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Beberapa orang juga dilaporkan hilang, termasuk siswa yang diduga berada di dalam gedung sekolah yang ambruk saat gempa terjadi.
Meskipun otoritas Filipina dan Pusat Peringatan Tsunami Pasifik telah mencabut peringatan tsunami, ribuan warga masih bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir akan kemungkinan gempa susulan.
Pemerintah Filipina saat ini terus melakukan pendataan terhadap korban dan kerusakan yang ditimbulkan. Jumlah korban jiwa diperkirakan masih dapat bertambah seiring berlanjutnya proses pencarian dan evakuasi di berbagai wilayah terdampak.