NANGGROVA.MY.ID | JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tidak saling menyalahkan terkait dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan.
Plt Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB Berton Pandjaitan mengatakan karhutla tidak mengenal batas administrasi maupun batas negara. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan secara bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara sembarangan.
"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," kata Berton dalam keterangan tertulis, Minggu.
Berton mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan terjadinya dampak asap lintas batas.
Ia menegaskan Indonesia telah mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk mengendalikan karhutla di sejumlah wilayah.
"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," ujarnya.
Penanganan karhutla dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pemadaman udara, water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca, serta penguatan personel TNI-Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
Selain upaya pemadaman, pemerintah juga melakukan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan.
Berton menyebutkan pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk mendukung operasi penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 pesawat beroperasi di wilayah Kalimantan, sedangkan 22 pesawat lainnya ditempatkan di Sumatra.
Pemerintah juga menambah kekuatan TNI Angkatan Udara untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.
"Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan," kata Berton.
Ia menambahkan bahwa pergerakan asap perlu dianalisis berdasarkan data meteorologi. Sejumlah faktor yang menjadi perhatian meliputi arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta hasil pemantauan satelit dan kondisi di lapangan.
Menurutnya, pendekatan berbasis data tersebut penting untuk mengetahui pergerakan asap secara akurat sekaligus mendukung upaya bersama dalam mengurangi dampak karhutla lintas batas.