Jumat, 16 Oktober 2026 • 19:31 WIB
BREAKING
Gubernur Aceh Mualem Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan Pertanian hingga Pendidikan Dek Fadh Bersama Abu Paya Pasie dan Ketua DPRA, Temui Menko Polkam, Perkuat Sinergi untuk Aceh Mualem Upayakan Listrik Gratis di Huntara Korban Banjir Aceh Mualem Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda Aceh di Medan Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan HUT ke-27 Bireuen Resmi Ditutup dengan Tabligh Akbar, Bupati Mukhlis: Jadikan Bireuen Berselawat Ruh Pembangunan Dek Fadh Hadiri Peringatan Maulid di Dayah Terpadu Inshafuddin Kapolres Bireuen Hadiri Malam Apresiasi Seni Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen Plt. Sekda Aceh Buka Pelatihan Kode Etik Jurnalistik AMSI Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani Gubernur Aceh Mualem Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan Pertanian hingga Pendidikan Dek Fadh Bersama Abu Paya Pasie dan Ketua DPRA, Temui Menko Polkam, Perkuat Sinergi untuk Aceh Mualem Upayakan Listrik Gratis di Huntara Korban Banjir Aceh Mualem Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda Aceh di Medan Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan HUT ke-27 Bireuen Resmi Ditutup dengan Tabligh Akbar, Bupati Mukhlis: Jadikan Bireuen Berselawat Ruh Pembangunan Dek Fadh Hadiri Peringatan Maulid di Dayah Terpadu Inshafuddin Kapolres Bireuen Hadiri Malam Apresiasi Seni Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen Plt. Sekda Aceh Buka Pelatihan Kode Etik Jurnalistik AMSI Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani
ID EN
NANGGROVA.ID — Voice of Nanggroe

Ekonomi Iran di Tengah Tekanan AS: Strategi Teheran Bertahan dari Gempuran Sanksi

N
Najmul Hadi
• calendar_today Kamis, 27 Agustus 2026 • 03:49 WIB • schedule 5 mnt baca
Ekonomi Iran di Tengah Tekanan AS: Strategi Teheran Bertahan dari Gempuran Sanksi
photo_camera Iran menghadapi tekanan sanksi AS dengan mengandalkan strategi ekonomi perlawanan dan perdagangan non-dolar. 27 Agustus 2026

NANGGROVA.MY.ID JAKARTA — Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat setelah Amerika Serikat memperluas sanksi terhadap individu dan entitas yang dituding membantu Teheran dalam penjualan minyak, pengadaan senjata, serta aktivitas siber.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari kampanye “pencekikan ekonomi” terhadap Iran. Pengumuman itu disampaikan ketika nilai tukar rial Iran dilaporkan mencapai titik terendah sepanjang sejarah, sekitar 2 juta rial per dolar AS.

Tekanan ekonomi tersebut berlangsung di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memasuki bulan keenam sejak pecah pada 28 Februari 2026.

Dari Teheran, Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan sanksi bukan merupakan hal baru bagi negaranya. Pemerintah Iran, menurut dia, telah memiliki sejumlah program untuk menghadapi dampak sanksi.

Selama lebih dari empat dekade, Iran mengembangkan kebijakan yang dikenal sebagai “ekonomi perlawanan” atau eqtesad-e moqavemati. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem ekonomi dan keuangan yang berada di bawah pengaruh negara-negara Barat.

Mengandalkan Perdagangan dengan China

Salah satu strategi utama Iran adalah mengalihkan transaksi perdagangan minyak dari sistem berbasis dolar AS. China menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran, dengan sejumlah laporan pasar memperkirakan sekitar 90 persen ekspor minyak Iran diserap oleh negara tersebut.

Transaksi perdagangan juga semakin banyak diarahkan menggunakan yuan dan sistem pembayaran lintas batas China, Cross-Border Interbank Payment System (CIPS).

Penggunaan mekanisme pembayaran non-dolar dinilai dapat membantu Iran mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang berada dalam jangkauan sanksi Amerika Serikat.

Namun, strategi tersebut juga meningkatkan ketergantungan Iran terhadap China. Status minyak Iran yang terkena sanksi membuat Teheran harus memberikan potongan harga untuk mempertahankan pembeliannya.

Ketergantungan tersebut juga membuat posisi Iran terhadap China menjadi tidak sepenuhnya seimbang karena Beijing memiliki hubungan perdagangan yang jauh lebih besar dengan Amerika Serikat.

Memanfaatkan Armada Bayangan

Selain sistem pembayaran alternatif, Iran juga mengandalkan jaringan kapal tanker yang dikenal sebagai shadow fleet atau armada bayangan untuk mempertahankan ekspor minyak.

Kapal-kapal tersebut dilaporkan menggunakan berbagai metode untuk menyamarkan asal kargo, termasuk mematikan sistem identifikasi otomatis atau AIS, menggunakan dokumen pengiriman dengan informasi yang sulit diverifikasi, serta melakukan pemindahan muatan antarkapal di laut.

Di sektor keuangan, pelaku usaha Iran yang kesulitan menggunakan sistem perbankan internasional juga memanfaatkan sistem hawala, yakni mekanisme transfer uang informal yang berbasis jaringan kepercayaan.

Strategi tersebut membantu mempertahankan sebagian aktivitas perdagangan Iran di luar sistem keuangan internasional. Namun, penggunaan jaringan perdagangan dan keuangan informal juga menimbulkan persoalan terkait transparansi serta pengawasan terhadap arus dana.

Iran Manfaatkan BRICS dan Perdagangan Non-Dolar

Iran juga memanfaatkan keanggotaannya di BRICS untuk memperluas hubungan ekonomi dengan negara-negara non-Barat.

Iran bergabung sebagai anggota BRICS pada 2024. Keanggotaan tersebut memberikan Teheran ruang untuk memperluas kerja sama ekonomi dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS dalam perdagangan internasional.

Iran juga menjalin hubungan ekonomi dengan Rusia serta sejumlah negara lainnya melalui mekanisme perdagangan non-dolar dan barter.

Meski demikian, keanggotaan BRICS tidak secara otomatis memberikan jaminan dukungan ekonomi penuh kepada Iran. Sejumlah negara anggota tetap memiliki kepentingan ekonomi dan strategis yang kuat dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Inflasi dan Tekanan terhadap Masyarakat

Di dalam negeri, tekanan ekonomi tercermin dari tingginya inflasi dan melemahnya nilai tukar rial.

Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi Iran pada 2026 berada pada kisaran 68,9 hingga 70 persen, sementara ekonomi negara tersebut diproyeksikan mengalami kontraksi sekitar 5,4 hingga 6,1 persen.

Sementara itu, Badan Statistik Iran melaporkan inflasi tahunan pada Juli 2026 mencapai 87,9 persen. Inflasi bahan pangan bahkan dilaporkan melampaui 128 persen.

Perbedaan antara data resmi Iran dan proyeksi IMF membuat kondisi inflasi tersebut perlu dibaca berdasarkan sumber dan periode pengukurannya masing-masing.

Tekanan tersebut juga berdampak terhadap daya beli masyarakat. Menurut laporan Kantor Berita Buruh Iran (ILNA), upah minimum bulanan berada di kisaran 166 juta rial, sementara kebutuhan hidup layak sebuah rumah tangga diperkirakan mencapai sekitar 450 juta rial per bulan.

Tekanan Ekonomi Picu Perdebatan Internal

Memburuknya kondisi ekonomi juga memunculkan perdebatan di kalangan elite Iran mengenai keberlanjutan perang dan kebijakan menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Laporan Critical Threats pada 21 Agustus 2026 menyebut terdapat kelompok di dalam pemerintahan Iran yang mulai menilai bahwa tekanan ekonomi dapat mengancam stabilitas politik dan sosial negara tersebut.

Kelompok yang disebut lebih realistis mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Namun, kelompok yang menolak konsesi masih mempertahankan sikap keras terhadap tekanan dari Amerika Serikat.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berdampak pada perdagangan dan keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari perdebatan politik internal Iran.

Ekspor Minyak Menjadi Titik Kritis

Kemampuan Iran mempertahankan ekspor minyak menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ketahanan ekonominya.

Menurut laporan yang dikutip dari sejumlah sumber, ekspor minyak Iran sempat mengalami penurunan tajam akibat gangguan dan blokade di kawasan Selat Hormuz.

Penurunan pasokan tersebut juga berdampak terhadap pembeli minyak Iran. Sejumlah kilang di China dilaporkan mulai mencari pasokan alternatif dari negara seperti Brasil dan Irak untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa semakin lama gangguan terhadap jalur ekspor berlangsung, semakin besar tekanan yang harus ditanggung Teheran untuk mempertahankan pendapatan negara.

Ketahanan Ekonomi Menghadapi Ujian

Selama puluhan tahun, Iran telah menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai gelombang sanksi. Perdagangan dengan China, penggunaan mata uang alternatif, jaringan perdagangan informal, produksi domestik, serta hubungan ekonomi dengan Rusia menjadi sejumlah instrumen yang digunakan untuk mempertahankan aktivitas ekonomi.

Namun, situasi pada 2026 menghadirkan tantangan yang lebih kompleks karena tekanan ekonomi berlangsung bersamaan dengan konflik bersenjata dan gangguan terhadap jalur perdagangan utama.

Kemampuan Iran mempertahankan ekspor minyak, menjaga nilai tukar rial, memenuhi kebutuhan masyarakat, serta mempertahankan hubungan dagang dengan negara-negara mitra akan menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa lama strategi “ekonomi perlawanan” dapat bertahan.

Pada saat yang sama, tingginya inflasi dan menurunnya daya beli masyarakat menunjukkan bahwa beban terbesar dari tekanan ekonomi tetap dirasakan oleh masyarakat Iran.

Dengan demikian, ketahanan ekonomi Iran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemerintah menghadapi sanksi Amerika Serikat, tetapi juga oleh kemampuan negara tersebut menjaga stabilitas ekonomi dan sosial di tengah tekanan yang terus berlangsung. | Gazamedia.net

share Bagikan:

BERITA TERKAIT

campaign PASANG IKLAN ANDA DI SINI verified Jangkau Ribuan Pembaca Setiap Hari WA 0821-8337-5860 newspaper NANGGROVA.ID — Portal Berita Terpercaya campaign PASANG IKLAN ANDA DI SINI verified Jangkau Ribuan Pembaca Setiap Hari WA 0821-8337-5860 newspaper NANGGROVA.ID — Portal Berita Terpercaya