NANGGROVA.MY.ID | TURKIYE, ISTANBUL — Fenomena cuaca El Nino yang diperkirakan mulai muncul pada Juli mendatang berpotensi menjadi ancaman baru bagi pasar komoditas global. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu pola suhu dan curah hujan di berbagai wilayah dunia.
Sejak awal tahun, model iklim sempat memperkirakan kondisi cuaca netral. Namun dalam beberapa pekan terakhir, tanda-tanda kemunculan El Nino dilaporkan semakin menguat.
El Nino umumnya menyebabkan peningkatan suhu di wilayah pesisir maupun secara global, sedangkan La Nina membawa kondisi cuaca lebih dingin. Adapun periode netral di antara keduanya biasanya ditandai pola cuaca yang lebih normal.
Pakar perdagangan berjangka dan komoditas, Zafer Ergezen, mengatakan peluang terbentuknya El Nino pada pertengahan 2026 kini telah melampaui 80 persen seiring meningkatnya suhu permukaan laut.
“Pemanasan lautan yang disertai melemahnya angin menuju Amerika menyebabkan suhu Samudra Pasifik meningkat. Dampaknya, curah hujan di kawasan Amerika meningkat, sementara Asia dan Australia menghadapi penurunan hujan dan kekeringan, serta terganggunya musim di Afrika dan India,” ujarnya kepada Anadolu.
Menurut Ergezen, Asia menjadi kawasan yang paling diperhatikan karena berisiko mengalami gangguan produksi minyak sawit, kakao, dan kapas.
Indonesia diketahui menyumbang sekitar 60 persen pasokan minyak sawit dunia, sementara Malaysia juga merupakan produsen utama. Kondisi ini membuat pasar komoditas sangat sensitif terhadap perubahan cuaca.
Ia menambahkan, gangguan produksi sawit dapat memengaruhi minyak nabati lain seperti kedelai dan bunga matahari.
“El Nino menyebabkan penurunan produksi kakao dalam lima dekade terakhir. Mungkin dampaknya belum terasa tahun ini, tetapi bisa muncul tahun depan sehingga harga kakao berpotensi naik,” katanya.
Ergezen juga memperingatkan keterlambatan musim hujan monsun dan suhu tinggi di India dapat meningkatkan serangan hama pada tanaman kapas, yang berpotensi memperbesar volatilitas pasar.
Selain itu, produksi beras diperkirakan ikut tertekan akibat berkurangnya curah hujan di Thailand dan Vietnam, dua negara eksportir beras terbesar di dunia.
Meski demikian, ia menilai produksi kedelai berpotensi meningkat, seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat dan Argentina pada periode El Nino sebelumnya.
Menurutnya, musim monsun India pada Juni hingga September akan menjadi indikator penting untuk melihat seberapa kuat dampak El Nino tahun ini.
“Kami akan terus memantau kawasan tersebut, terutama India, karena curah hujan di sana akan menentukan proyeksi produksi kapas, gula, beras, dan minyak sawit,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika musim monsun berlangsung normal maka risiko dapat mereda. Namun jika dampaknya lemah, hal itu bisa menjadi sinyal awal El Nino yang lebih kuat pada periode mendatang.
Sumber : Anadolu