Jumat, 16 Oktober 2026 • 18:20 WIB
BREAKING
Gubernur Aceh Mualem Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan Pertanian hingga Pendidikan Dek Fadh Bersama Abu Paya Pasie dan Ketua DPRA, Temui Menko Polkam, Perkuat Sinergi untuk Aceh Mualem Upayakan Listrik Gratis di Huntara Korban Banjir Aceh Mualem Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda Aceh di Medan Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan HUT ke-27 Bireuen Resmi Ditutup dengan Tabligh Akbar, Bupati Mukhlis: Jadikan Bireuen Berselawat Ruh Pembangunan Dek Fadh Hadiri Peringatan Maulid di Dayah Terpadu Inshafuddin Kapolres Bireuen Hadiri Malam Apresiasi Seni Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen Plt. Sekda Aceh Buka Pelatihan Kode Etik Jurnalistik AMSI Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani Gubernur Aceh Mualem Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan Pertanian hingga Pendidikan Dek Fadh Bersama Abu Paya Pasie dan Ketua DPRA, Temui Menko Polkam, Perkuat Sinergi untuk Aceh Mualem Upayakan Listrik Gratis di Huntara Korban Banjir Aceh Mualem Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda Aceh di Medan Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan HUT ke-27 Bireuen Resmi Ditutup dengan Tabligh Akbar, Bupati Mukhlis: Jadikan Bireuen Berselawat Ruh Pembangunan Dek Fadh Hadiri Peringatan Maulid di Dayah Terpadu Inshafuddin Kapolres Bireuen Hadiri Malam Apresiasi Seni Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen Plt. Sekda Aceh Buka Pelatihan Kode Etik Jurnalistik AMSI Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani
ID EN
NANGGROVA.ID — Voice of Nanggroe

Garis yang Tak Pernah Dirancang: Asal Usul Jalur Gaza dari Sisa Perang

M
Muhammad akbar
• calendar_today Jumat, 24 Juli 2026 • 03:57 WIB • schedule 3 mnt baca
Garis yang Tak Pernah Dirancang: Asal Usul Jalur Gaza dari Sisa Perang
photo_camera Jalur Gaza terbentuk bukan melalui perjanjian damai, melainkan sebagai hasil garis gencatan senjata setelah Perang Arab-Israel 1948. Wilayah yang awalnya bersifat sementara itu kemudian berkembang menjadi entitas geopolitik yang bertahan hingga kini. Juma

NANGGROVA.MY.ID | GAZA CITY – Jalur Gaza merupakan salah satu wilayah paling kompleks dalam sejarah konflik Timur Tengah. Berbeda dengan banyak perbatasan negara yang lahir melalui perjanjian politik atau proses diplomasi, Jalur Gaza terbentuk sebagai konsekuensi langsung dari Perang Arab-Israel 1948.

Wilayah ini tidak pernah dirancang sebagai sebuah entitas geopolitik yang permanen. Batas-batasnya muncul dari garis gencatan senjata yang menghentikan pertempuran pada Januari 1949 dan kemudian diformalkan melalui Perjanjian Gencatan Senjata Mesir-Israel yang ditandatangani di Rhodes pada 24 Februari 1949.

Sebelum 1948, kawasan Gaza merupakan bagian dari wilayah Palestina selatan yang jauh lebih luas. Pada masa Kesultanan Utsmaniyah hingga Mandat Inggris, Gaza menjadi pusat administratif yang terhubung dengan berbagai kota dan wilayah pertanian di sekitarnya tanpa batas geografis seperti yang dikenal saat ini.

Dalam Rencana Pembagian Palestina yang disahkan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 29 November 1947, kawasan Gaza sebenarnya dialokasikan sebagai bagian dari negara Arab yang diusulkan. Namun rencana tersebut tidak pernah terlaksana karena pecahnya perang setelah berakhirnya Mandat Inggris dan deklarasi kemerdekaan Israel pada Mei 1948.

Selama perang berlangsung, Mesir menjadi kekuatan Arab utama di wilayah selatan Palestina. Pasukan Mesir sempat menguasai sebagian besar jalur pantai hingga Ashdod dan mempertahankan sejumlah wilayah di sekitar Beersheba.

Situasi berubah pada Oktober 1948 ketika Israel melancarkan Operasi Yoav untuk memutus jalur pertahanan Mesir dan merebut wilayah Negev. Serangkaian operasi militer memaksa pasukan Mesir mundur hingga hanya mempertahankan kawasan sempit di sekitar Kota Gaza.

Pada Desember 1948, Israel kembali melancarkan Operasi Horev dengan tujuan mengepung pasukan Mesir di Gaza. Operasi tersebut akhirnya dihentikan setelah Inggris mengancam akan melakukan intervensi militer apabila Israel melanjutkan serangan ke wilayah Sinai. Kondisi tersebut mendorong Mesir menerima perundingan gencatan senjata.

Perundingan yang berlangsung di Pulau Rhodes menghasilkan Perjanjian Gencatan Senjata Mesir-Israel pada 24 Februari 1949. Garis yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut mengikuti posisi terakhir pasukan di medan perang dan bukan berdasarkan pertimbangan geografis maupun administrasi. Garis inilah yang kemudian dikenal sebagai bagian dari Garis Hijau dan menjadi batas de facto Jalur Gaza hingga kini.

Perang 1948 juga mengubah komposisi penduduk Gaza secara drastis. Sebelum konflik, kawasan tersebut dihuni sekitar 80.000 jiwa. Setelah perang, lebih dari 200.000 warga Palestina mengungsi ke Gaza dari berbagai wilayah, sehingga jumlah penduduk meningkat menjadi sekitar 360.000 jiwa.

Sebagian besar pengungsi tinggal di kamp-kamp yang didirikan oleh United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA). Kamp-kamp yang awalnya dibangun sebagai tempat penampungan sementara itu kemudian berkembang menjadi kawasan permukiman permanen.

Selama periode 1949 hingga 1967, Jalur Gaza berada di bawah administrasi Mesir. Mesir tidak mencaplok wilayah tersebut maupun memberikan kewarganegaraan kepada penduduk Gaza. Di sisi lain, para pengungsi Palestina juga tidak diizinkan kembali ke tempat asal mereka yang kini berada di bawah kendali Israel.

Secara geografis, Jalur Gaza memiliki panjang sekitar 41 kilometer dengan lebar antara 6 hingga 12 kilometer serta luas sekitar 365 kilometer persegi. Wilayah ini hanya mencakup kurang dari 1,5 persen dari wilayah Palestina bersejarah, namun menjadi tempat tinggal bagi ratusan ribu pengungsi sejak Perang 1948.

Lebih dari tujuh dekade setelah garis gencatan senjata itu ditarik, Jalur Gaza tetap menjadi salah satu kawasan paling padat penduduk di dunia. Garis yang semula dimaksudkan sebagai solusi sementara akhirnya berkembang menjadi batas de facto yang masih bertahan hingga sekarang, menjadikan Jalur Gaza sebagai entitas geopolitik yang lahir dari sisa-sisa perang dan terus memainkan peran penting dalam konflik Timur Tengah.

Sumber : Gazamedia.net

share Bagikan:

BERITA TERKAIT

campaign PASANG IKLAN ANDA DI SINI verified Jangkau Ribuan Pembaca Setiap Hari WA 0821-8337-5860 newspaper NANGGROVA.ID — Portal Berita Terpercaya campaign PASANG IKLAN ANDA DI SINI verified Jangkau Ribuan Pembaca Setiap Hari WA 0821-8337-5860 newspaper NANGGROVA.ID — Portal Berita Terpercaya