NANGGROVA.MY.ID | JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia meskipun sebagian besar daerah telah memasuki periode musim kemarau. Namun, intensitas hujan diperkirakan akan terus menurun seiring meluasnya wilayah kemarau.
Dalam analisis Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan periode 19–25 Juni 2026, BMKG menyebutkan bahwa memasuki Dasarian III Juni 2026, wilayah Indonesia yang berada dalam musim kemarau diprediksi semakin bertambah dengan sifat hujan umumnya berada pada kategori bawah normal.
“Memasuki Dasarian III Juni 2026, wilayah Indonesia yang berada pada periode musim kemarau diprakirakan semakin bertambah,” tulis BMKG dalam keterangannya.
BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi oleh perkembangan indikator *El Niño Southern Oscillation* (ENSO) yang menunjukkan kecenderungan menuju fase hangat dengan intensitas moderat di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur. Indeks Niño 3.4 tercatat sebesar +0,92 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -23,1, yang secara umum dapat mengurangi peluang pembentukan hujan di Indonesia.
Meski demikian, BMKG menegaskan potensi hujan tetap perlu diwaspadai karena dinamika atmosfer regional dan faktor lokal masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Dalam sepekan ke depan, pola siklonik diperkirakan terbentuk di Samudra Pasifik utara Papua Barat serta di Samudra Hindia barat Sumatra. Kondisi ini dapat memicu perlambatan dan pertemuan angin yang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan.
Selain itu, atmosfer lokal di sejumlah wilayah masih menunjukkan kondisi labil yang mendukung pembentukan awan konvektif, terutama di Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua.
“Dengan adanya kombinasi faktor-faktor tersebut, peluang hujan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari mendatang, meskipun secara umum sebagian wilayah telah memasuki periode musim kemarau,” jelas BMKG.
BMKG juga mencatat beberapa wilayah berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, di antaranya Sumatra Utara dan Kepulauan Bangka Belitung pada 19–21 Juni, serta Papua Pegunungan pada 22–25 Juni.
Berdasarkan analisis Dasarian I Juni 2026, wilayah yang telah memasuki musim kemarau semakin meluas, meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua Selatan.
Meski demikian, hujan dengan intensitas signifikan masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama Indonesia bagian utara dan wilayah ekuator. Pada periode 15–18 Juni 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di Kalimantan Barat, Sumatra Utara, Aceh, Sumatra Barat, Jambi, dan Kepulauan Riau.
BMKG menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta sirkulasi siklonik di Samudra Hindia yang membentuk daerah konvergensi dan belokan angin.
Sumber : CNN