NANGGROVA | JAKARTA — Mengenal, mempelajari, dan mencintai batik dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya Indonesia, khususnya di tengah perubahan zaman.
Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati mengatakan masyarakat, terutama generasi muda, diharapkan tidak hanya bangga mengenakan batik, tetapi juga memahami nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya.
“Keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu menjadikannya tetap hidup, relevan, dan dicintai dari generasi ke generasi,” kata Sri kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, batik tidak sekadar kain atau busana, melainkan bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Upaya mengenalkan keberagaman batik dilakukan Museum Tekstil melalui pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2026.
Pameran tersebut menghadirkan 60 koleksi batik lama milik Museum Tekstil, terdiri atas tiga koleksi batik Demak, 15 batik Kudus, dan 42 batik Banyumas.
Sri menjelaskan ketiga tradisi batik tersebut merupakan bagian dari perjalanan sosial dan budaya masyarakat di daerah masing-masing. Setiap motif dan lembar kain menyimpan jejak sejarah, kreativitas, serta kehidupan masyarakat pada zamannya.
Namun, keberlangsungan tradisi batik di sejumlah daerah menghadapi berbagai tantangan. Berkurangnya regenerasi pembatik, perubahan pola kehidupan masyarakat, perkembangan selera, serta faktor sosial dan ekonomi turut memengaruhi keberlanjutan tradisi tersebut.
Pameran itu sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal koleksi Batik Kudus, Demak, dan Banyumas serta memahami perjalanan, keindahan, dan keberlanjutan tradisinya.
“Meskipun masa kejayaannya mungkin telah berlalu, jejak keterampilan, kreativitas, dan nilai budaya yang terkandung dalam karya-karya tersebut tetap hidup hingga hari ini,” ujar Sri.
Sebagai museum yang memiliki perhatian terhadap tekstil Indonesia, Museum Tekstil tidak hanya menyimpan dan merawat koleksi, tetapi juga melakukan pendataan, dokumentasi, konservasi, penelitian, pameran, serta berbagai kegiatan edukasi dan publik.
Museum Tekstil juga membangun kolaborasi dengan pembatik, komunitas, akademisi, kolektor, dan berbagai pihak yang memiliki pengetahuan mengenai batik.
Sri menegaskan pelestarian batik tidak cukup hanya dilakukan dengan menjaga kainnya. Pengetahuan mengenai pembuat, daerah asal, teknik pembuatan, motif, pewarnaan, fungsi, hingga cerita masyarakat di balik setiap kain juga perlu didokumentasikan.
“Dengan demikian, museum dapat menjadi ruang yang menghubungkan warisan masa lalu dengan perkembangan batik masa kini dan generasi yang akan datang,” tuturnya. | Akbar