NANGGROVA.MY.ID | JAKARTA – Anak-anak yang mengalami kurang tidur secara konsisten sejak usia dini berisiko lebih tinggi mengalami depresi ketika memasuki masa remaja hingga awal dewasa. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan tim akademisi dari Universitas Birmingham, Inggris.
Penelitian yang menganalisis data lebih dari 15.000 anak melalui studi jangka panjang Children of the 90s atau Avon Longitudinal Study of Parents and Children itu menemukan adanya hubungan antara durasi tidur yang pendek selama masa kanak-kanak dengan meningkatnya risiko gejala depresi di kemudian hari.
Penulis utama penelitian, Dr. Isabel Morales-Muñoz, mengatakan bahwa sejumlah kecil anak yang secara konsisten memiliki waktu tidur lebih singkat sejak masa bayi hingga usia sekolah menunjukkan kecenderungan lebih tinggi mengalami depresi saat remaja.
“Risiko yang meningkat dua kali lipat mungkin terdengar besar, tetapi masalah tidur yang menetap hanya dialami oleh sebagian kecil peserta studi, dan hanya sebagian kecil pula yang kemudian mengalami gejala depresi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti memantau pola tidur peserta sejak usia enam bulan hingga tujuh tahun. Setelah itu, peserta yang sama dievaluasi terkait gejala depresi pada rentang usia 12 hingga 22 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang secara konsisten mengalami durasi tidur lebih pendek memiliki kemungkinan dua kali lebih besar melaporkan tingkat depresi yang tinggi dibandingkan mereka yang memiliki pola tidur normal.
Tim peneliti menyebut temuan ini sebagai bukti pertama yang menunjukkan dampak negatif jangka panjang dari kurang tidur sejak masa bayi terhadap munculnya gejala depresi yang lebih berat dan menetap pada masa remaja hingga awal kedewasaan.
Menurut Dr. Morales-Muñoz, tidur merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan anak yang dapat diperbaiki tanpa memerlukan intervensi medis.
“Upaya mengatasi masalah tidur yang berlangsung lama selama masa kanak-kanak akan memberikan banyak manfaat, termasuk mengurangi potensi risiko kesehatan mental,” katanya.
Peneliti lainnya, Dr. Rebekah Amos, menambahkan bahwa hasil studi ini membantu menjelaskan faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko depresi kronis pada kaum muda. Ia menegaskan bahwa kualitas tidur merupakan faktor yang masih dapat dimodifikasi melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.
Beberapa langkah yang disarankan untuk meningkatkan kualitas tidur anak antara lain menetapkan jadwal tidur yang konsisten, membiasakan tidur lebih awal, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, meningkatkan aktivitas fisik pada siang hari, serta menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan tenang.
Selain itu, penelitian juga menemukan kemungkinan keterkaitan antara gangguan tidur kronis dengan proses peradangan dalam tubuh. Salah satu penanda inflamasi yang diteliti, yakni IL-6, diduga berperan dalam hubungan antara kurang tidur dan meningkatnya risiko depresi.
Meski demikian, para peneliti menilai bahwa perbaikan kebiasaan tidur sejak dini berpotensi mengurangi dampak tersebut dan membantu menjaga kesehatan mental anak hingga dewasa.
“Temuan ini menunjukkan bahwa gangguan tidur kronis dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental jangka panjang melalui jalur biologis, termasuk peradangan,” ujar Amos.
Sumber : Antara