NANGGROVA.MY.ID | JAKARTA – Pemerintah terus mempercepat transformasi sektor pertanian nasional melalui penerapan sistem budidaya modern yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan. Langkah tersebut ditandai dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lahan demonstrasi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) saat menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII di Kabupaten Gorontalo.
Dalam kunjungan itu, Presiden tidak hanya menyampaikan pidato, tetapi juga turun langsung ke area persawahan untuk melihat penerapan teknologi budidaya yang dikembangkan Kementerian Pertanian. Sistem PM-AAS diklaim mampu meningkatkan hasil panen dari rata-rata lima hingga enam ton gabah per hektare menjadi lebih dari 10 ton, bahkan mencapai 12,4 ton per hektare pada sejumlah uji lapangan.
Presiden Prabowo mengatakan peningkatan produktivitas tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Menurutnya, apabila hasil panen petani mampu meningkat hingga dua kali lipat, Indonesia akan semakin dekat mewujudkan swasembada pangan di seluruh daerah.
Pemerintah juga menargetkan agar teknologi tersebut dapat diterapkan secara luas di berbagai wilayah Indonesia. Presiden berharap setiap desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, bahkan menghasilkan surplus untuk dipasarkan ke daerah lain maupun diekspor.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan PM-AAS merupakan hasil riset dan pengembangan selama hampir dua tahun. Sistem ini menggabungkan metode jajar legowo yang telah lama diterapkan petani Indonesia dengan teknologi pertanian modern yang dipelajari dari Amerika Serikat dan China.
PM-AAS mengedepankan tiga prinsip utama, yakni mengoptimalkan proses fotosintesis melalui pengaturan jarak tanam, meningkatkan populasi tanaman dalam satu hamparan, serta menerapkan pertanian presisi agar penggunaan benih, pupuk, dan air menjadi lebih efisien.
Melalui metode tersebut, populasi tanaman dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan sistem konvensional tanpa mengurangi ruang bagi cahaya matahari dan sirkulasi udara. Pemupukan juga disesuaikan agar kebutuhan nutrisi tanaman tetap terpenuhi sehingga produktivitas dapat meningkat secara optimal.
Untuk menguji efektivitas teknologi tersebut, Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) telah membangun berbagai lahan percontohan di sejumlah provinsi. Selain Gorontalo, pengembangan PM-AAS juga dilakukan di Banten, Kalimantan Selatan, dan beberapa daerah lainnya guna melihat kemampuan sistem beradaptasi pada kondisi lahan yang berbeda.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi tersebut telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berkisar 30 hingga 31 juta ton per tahun.
Pemerintah menilai peningkatan produksi tersebut merupakan hasil berbagai program yang telah dijalankan, mulai dari penggunaan benih unggul, rehabilitasi jaringan irigasi, mekanisasi pertanian, optimalisasi lahan rawa, hingga perluasan areal tanam. Kehadiran PM-AAS diharapkan menjadi tahap lanjutan untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus membuka lahan pertanian baru.
Meski demikian, pemerintah menyadari tantangan terbesar bukan hanya keberhasilan di lahan percontohan, melainkan penerapan teknologi tersebut secara konsisten di jutaan hektare sawah Indonesia yang memiliki karakteristik tanah, iklim, sumber air, dan kemampuan petani yang beragam.
Dengan sistem yang dirancang adaptif terhadap berbagai kondisi wilayah, PM-AAS diharapkan mampu menjadi fondasi revolusi pertanian nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia dalam jangka panjang.
Sumber: ANTARA