NANGGROVA.MY.ID | JAKARTA – PT Phapros Tbk (PEHA), perusahaan farmasi anak usaha PT Kimia Farma (Persero) Tbk, mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 113 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y) pada kuartal I 2026, didorong peningkatan penjualan dan efisiensi biaya operasional.
Pelaksana Tugas Direktur Utama Phapros, Ida Rahmi Kurniasih, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, mengatakan kinerja positif tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 10,17 persen menjadi Rp221,09 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp200,67 miliar.
Di sisi lain, perusahaan mampu menjaga efisiensi biaya produksi. Beban pokok penjualan (cost of goods sold/COGS) hanya meningkat 5,04 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan penjualan. Kondisi ini mendorong laba kotor meningkat 16,59 persen menjadi Rp103,96 miliar dari sebelumnya Rp89,17 miliar.
Sementara itu, beban usaha pada periode Januari–Maret 2026 relatif terkendali dengan kenaikan sebesar 7,35 persen secara tahunan. Kombinasi antara pertumbuhan pendapatan dan pengendalian biaya tersebut membuat Phapros berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp761,49 juta, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih mencatatkan kerugian sebesar Rp5,92 miliar.
Kinerja pada awal 2026 ini juga melanjutkan tren positif perusahaan sepanjang 2025 yang mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 109 persen secara tahunan.
Menurut Ida, di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas kinerja keuangan melalui strategi yang terukur. Phapros secara konsisten mengoptimalkan berbagai saluran penjualan, menjaga ketersediaan produk, serta menerapkan efisiensi biaya di seluruh lini operasional tanpa mengabaikan standar mutu dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Berbagai langkah strategis tersebut berhasil menjaga profitabilitas berkelanjutan. Setelah berhasil membalikkan kondisi dari rugi pada 2024 menjadi profit pada 2025, kami terus berupaya mempertahankan kinerja tersebut,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan juga melakukan langkah mitigasi terhadap dampak geopolitik global yang berpotensi meningkatkan harga bahan baku dan biaya produksi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengamankan kontrak pembelian sejak awal tahun serta terus memantau perkembangan pasar agar tetap adaptif.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan target penjualan, biaya, dan laba bersih hingga akhir tahun sesuai dengan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).
Dari sisi produk, obat generik bermerek (OGB) menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan penjualan pada kuartal I 2026. Penjualan OGB tercatat melonjak 59 persen menjadi Rp128,70 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp80,88 miliar.
Kontribusi produk obat anti tuberkulosis (TB) untuk dewasa dan anak, serta tablet tambah darah, turut memperkuat kinerja perusahaan. Produk-produk tersebut juga sejalan dengan program prioritas pemerintah dalam penanganan penyakit TB, anemia, dan stunting di Indonesia.
Ke depan, Phapros optimistis dapat menjaga tren pertumbuhan kinerja dengan tetap mengedepankan efisiensi, inovasi produk, serta adaptasi terhadap dinamika pasar global.
Sumber : Antara