NANGGROVA.MY.ID | TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Komando Militer Pusat Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (20/6) waktu setempat. Langkah tersebut disebut sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon yang dinilai Teheran sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang sebelumnya terjalin dengan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan yang disiarkan melalui televisi pemerintah Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk seluruh lalu lintas kapal sebagai bentuk respons awal terhadap tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran oleh pihak lawan.
Iran menegaskan bahwa penutupan tersebut merupakan langkah pertama dan tidak menutup kemungkinan adanya tindakan lanjutan apabila situasi terus berkembang. Menurut pernyataan tersebut, langkah tambahan dapat diambil untuk mendorong pihak yang dianggap bertanggung jawab agar memenuhi komitmen yang telah disepakati.
Pengumuman itu muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik kawasan menyusul serangan Israel di wilayah Lebanon. Pemerintah Iran menilai serangan tersebut telah memperburuk stabilitas regional dan memicu ketegangan baru di Timur Tengah.
Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam perdagangan energi dunia. Jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara kawasan Teluk ke berbagai negara di dunia.
Karena posisinya yang sangat vital, setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi distribusi energi global, memicu kenaikan harga minyak, serta menimbulkan ketidakpastian di pasar internasional.
Sejumlah pengamat menilai perkembangan terbaru ini dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan internasional dan memperbesar risiko gejolak ekonomi apabila ketegangan di kawasan terus berlanjut.
Sumber : Gazamedia.net