Sabtu, 17 Oktober 2026 • 23:13 WIB
BREAKING
Gubernur Aceh Mualem Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan Pertanian hingga Pendidikan Dek Fadh Bersama Abu Paya Pasie dan Ketua DPRA, Temui Menko Polkam, Perkuat Sinergi untuk Aceh Mualem Upayakan Listrik Gratis di Huntara Korban Banjir Aceh Mualem Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda Aceh di Medan Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan HUT ke-27 Bireuen Resmi Ditutup dengan Tabligh Akbar, Bupati Mukhlis: Jadikan Bireuen Berselawat Ruh Pembangunan Dek Fadh Hadiri Peringatan Maulid di Dayah Terpadu Inshafuddin Kapolres Bireuen Hadiri Malam Apresiasi Seni Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen Plt. Sekda Aceh Buka Pelatihan Kode Etik Jurnalistik AMSI Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani Gubernur Aceh Mualem Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan Pertanian hingga Pendidikan Dek Fadh Bersama Abu Paya Pasie dan Ketua DPRA, Temui Menko Polkam, Perkuat Sinergi untuk Aceh Mualem Upayakan Listrik Gratis di Huntara Korban Banjir Aceh Mualem Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda Aceh di Medan Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan HUT ke-27 Bireuen Resmi Ditutup dengan Tabligh Akbar, Bupati Mukhlis: Jadikan Bireuen Berselawat Ruh Pembangunan Dek Fadh Hadiri Peringatan Maulid di Dayah Terpadu Inshafuddin Kapolres Bireuen Hadiri Malam Apresiasi Seni Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen Plt. Sekda Aceh Buka Pelatihan Kode Etik Jurnalistik AMSI Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani
ID EN
NANGGROVA.ID — Voice of Nanggroe
NUSANTARA HEADLINE

Harapan Baru bagi Penyintas Bencana di Surantiah Parak Pisang

M
Muhammad akbar
• calendar_today Selasa, 14 Juli 2026 • 07:02 WIB • schedule 3 mnt baca
Harapan Baru bagi Penyintas Bencana di Surantiah Parak Pisang
photo_camera Seorang warga membangun shelter di rumahnya di Korong Surantiah Parak Pisang, Nagari Sungai Buluh Utara, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. ANTARA/Fitra Yogi.

ACEHTIMES.CO.ID | PADANG PARIAMAN – Trauma akibat banjir bandang yang melanda Korong Surantiah Parak Pisang, Nagari Sungai Buluh Utara, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada November 2025 masih membekas di benak para penyintas. Berbagai upaya dilakukan warga untuk mengantisipasi kemungkinan bencana serupa, salah satunya dengan membangun shelter darurat secara mandiri.

Ronandi (60), salah seorang penyintas, membangun shelter setinggi tiga meter di samping rumahnya sebagai tempat evakuasi apabila banjir kembali terjadi. Shelter berukuran sekitar 3 x 2 meter itu dibuat menggunakan kayu, papan, dan atap seng serta dilengkapi karpet dan lampu darurat. Ke depan, ia berencana menambah ruang penyimpanan untuk pakaian dan persediaan makanan.

Menurut Ronandi, keputusan membangun shelter dilatarbelakangi pengalaman pahit saat banjir bandang menerjang kawasan tersebut. Dari sekitar 27 rumah di Perumahan Graha Bumi Sejahtera, dua rumah mengalami kerusakan berat, sementara sebagian besar lainnya terendam hingga ke atap.

Ia mengaku telah tiga kali mengalami banjir selama tinggal di kawasan tersebut. Peristiwa paling mengerikan terjadi pada 2024 ketika banjir datang menjelang subuh. Bersama istrinya, Ronandi nyaris kehilangan nyawa setelah air tiba-tiba menerobos masuk ke dalam rumah. Keduanya akhirnya berhasil diselamatkan oleh seorang pemuda yang berenang menggunakan batang pisang sebagai pelampung darurat.

Pengalaman tersebut membuat Ronandi meningkatkan ketinggian shelter yang sebelumnya dibangun pada 2025. Awalnya shelter hanya setinggi dua meter, namun setelah banjir berikutnya lebih tinggi dari perkiraan, ia membangun shelter baru dengan tinggi tiga meter demi melindungi keluarganya, termasuk dua cucunya yang masih kecil.

Di sisi lain, kondisi Sungai Batang Anai masih menjadi perhatian. Sungai sepanjang sekitar 69 kilometer yang berhulu di Gunung Marapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Tandikek itu kerap meluap saat curah hujan tinggi. Warga menduga keberadaan tiang jembatan jalan tol serta pendangkalan sungai turut memperparah banjir yang terjadi di kawasan permukiman.

Ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Ade Edward mengatakan dugaan tersebut memungkinkan karena tiang jembatan dapat mengurangi kapasitas aliran sungai. Namun, ia menegaskan hal itu masih memerlukan kajian teknis lebih lanjut. Menurutnya, pendangkalan Sungai Batang Anai pascabanjir serta belum dilakukannya normalisasi sungai menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko banjir susulan.

Ade juga menyarankan agar sistem pengendalian banjir yang terhubung dengan outlet PLTA Singkarak tetap dioperasikan pada waktu tertentu untuk mengurangi debit air menuju hilir Batang Anai. Selain itu, normalisasi sungai dan pengerukan sedimentasi dinilai menjadi langkah yang mendesak dilakukan.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Padang Pariaman Hendra Aswara mengapresiasi inisiatif warga yang membangun shelter sebagai bentuk mitigasi mandiri. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus berkoordinasi dengan BNPB, Balai Wilayah Sungai Sumatera V, dan instansi terkait untuk melakukan pemantauan, kajian kondisi sungai, serta menyiapkan langkah-langkah mitigasi guna mengurangi risiko bencana.

Trauma juga masih dirasakan warga lainnya. Rina Susanti mengaku selalu dihantui rasa cemas setiap hujan turun meski kini telah memasuki musim kemarau. Ia berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap penanganan banjir dan kondisi sungai agar masyarakat dapat hidup lebih tenang.

Hal senada disampaikan Febri Mayeli. Menurutnya, saluran air yang belum pulih serta kondisi tebing sungai yang masih rawan membuat warga terus waspada. Ia berharap pemerintah segera memperbaiki titik-titik rawan banjir, termasuk sedimentasi sungai dan kondisi Jembatan Kampung Apa yang menjadi akses utama menuju kawasan permukiman.

Bagi Ronandi dan warga Surantiah Parak Pisang lainnya, shelter sederhana yang berdiri di samping rumah bukan sekadar bangunan dari kayu dan seng. Shelter tersebut menjadi simbol harapan sekaligus ikhtiar untuk melindungi keluarga apabila banjir kembali datang.

Sumber : Antara

share Bagikan:

BERITA TERKAIT

campaign PASANG IKLAN ANDA DI SINI verified Jangkau Ribuan Pembaca Setiap Hari WA 0821-8337-5860 newspaper NANGGROVA.ID — Portal Berita Terpercaya campaign PASANG IKLAN ANDA DI SINI verified Jangkau Ribuan Pembaca Setiap Hari WA 0821-8337-5860 newspaper NANGGROVA.ID — Portal Berita Terpercaya