NANGGROVA.MY.ID | JAKARTA – PT Pertamina bersama Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) menjalin kolaborasi strategis untuk mendukung program pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mempercepat transisi energi berkelanjutan.
Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, mengatakan kemandirian energi dan transisi energi merupakan dua strategi yang dijalankan secara bersamaan oleh perusahaan.
“Kemandirian energi dan transisi energi merupakan dua strategi yang dijalankan Pertamina secara bersamaan. Kedua hal ini saling memperkuat satu sama lain dan menjadi implementasi dari Dual Growth Strategy Pertamina,” ujar Emma dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Menurutnya, Pertamina terus berkomitmen mendukung program pemerintah melalui pengembangan kapabilitas perusahaan serta memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga pemikir internasional.
Emma menjelaskan, Pertamina saat ini menjalankan dua pilar utama strategi bisnis, yakni mengoptimalkan bisnis energi fosil yang telah ada serta mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon sebagai bagian dari upaya menuju energi berkelanjutan.
Kerja sama antara Pertamina dan ERIA dituangkan dalam nota kesepahaman yang mencakup dua fokus utama, yakni analisis kebijakan dan ekonomi sektor energi, serta pengembangan kapasitas dan pertukaran pengetahuan.
Pelaksanaan kerja sama tersebut akan dijalankan melalui Pertamina Energy Institute (PEI) sebagai lembaga pemikir strategis milik Pertamina.
“Melalui kemitraan dengan ERIA, Pertamina akan memperoleh dukungan berupa kajian kebijakan berbasis riset, analisis ekonomi energi yang komprehensif, serta penguatan kapasitas institusional yang selaras dengan pengembangan portofolio bisnis dan strategi jangka panjang perusahaan,” kata Emma.
Ia menambahkan kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi strategis Pertamina di tingkat regional di tengah dinamika transisi energi global yang terus berkembang.
“Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga pemikir internasional, akan meningkatkan kapasitas para pihak dalam menghadapi tantangan dan peluang sektor energi di masa depan,” ujarnya.
Sumber : Antara