NANGGROVA.MY.ID | GAZA – Kelompok Palestina Hamas menyatakan proses perundingan terkait pelaksanaan gencatan senjata di Jalur Gaza masih terus berlangsung. Salah satu agenda utama yang dibahas bersama para mediator adalah mekanisme penarikan pasukan Israel serta implementasi penuh kesepakatan gencatan senjata.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan konsultasi intensif terus dilakukan bersama berbagai pihak, termasuk Mesir, Qatar, Turki, dan mediator internasional, guna memastikan seluruh poin dalam perjanjian dapat dijalankan sesuai kesepakatan.
Menurut Qassem, pembahasan saat ini tidak hanya mencakup penyelesaian tahapan pertama, tetapi juga persiapan menuju pelaksanaan tahap kedua yang dinilai memiliki tantangan lebih kompleks.
"Pembahasan ini mencakup implementasi menyeluruh perjanjian gencatan senjata, termasuk hal-hal yang masih tersisa dari tahap pertama serta mekanisme pelaksanaan tahap kedua," ujarnya, Jumat (27/6).
Hamas juga mengungkapkan bahwa delegasi mereka bersama sejumlah faksi Palestina dijadwalkan mengunjungi Kairo dalam beberapa hari ke depan untuk menyampaikan tanggapan terhadap berbagai usulan baru yang diajukan para mediator.
Qassem menjelaskan, sebelumnya sejumlah kesepahaman telah dicapai dan mendapat respons positif dari pihak mediator. Namun, terdapat pendekatan baru yang diajukan utusan internasional Nikolay Mladenov yang saat ini masih dikaji secara menyeluruh oleh Hamas dan kelompok-kelompok Palestina.
Hamas menegaskan pihaknya tetap menangani seluruh proses diplomasi dengan penuh tanggung jawab demi menjaga hak-hak rakyat Palestina sekaligus mengakhiri konflik yang masih berlangsung di Jalur Gaza.
Pada tahap kedua perundingan, sejumlah isu strategis turut dibahas, di antaranya pembentukan Komite Nasional Administrasi Gaza, pengerahan pasukan internasional, hingga pembahasan mengenai senjata yang dimiliki kelompok-kelompok Palestina.
Qassem menyatakan Hamas siap menyerahkan seluruh urusan pemerintahan, termasuk sektor keamanan, kepada Komite Nasional Administrasi Gaza yang dirancang sebagai lembaga nonpolitik untuk mengelola layanan sipil di wilayah tersebut.
Selain perkembangan negosiasi, Hamas juga kembali menuding Israel melakukan berbagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah berlaku.
Menurut Hamas, pelanggaran tersebut meliputi pembatasan distribusi bantuan kemanusiaan, operasi militer yang masih berlangsung, serta perluasan wilayah operasi yang menyebabkan pengungsian warga dan kerusakan permukiman.
Qassem menyerukan agar para mediator mengambil langkah yang lebih tegas untuk mendorong Israel menjalankan seluruh poin yang telah disepakati, khususnya terkait ketentuan kemanusiaan pada tahap pertama sebelum memasuki tahap kedua.
Ia juga menekankan pentingnya percepatan masuknya Komite Nasional Administrasi Gaza agar distribusi bantuan kemanusiaan dan proses rekonstruksi dapat segera berjalan.
Sebelumnya, kerangka gencatan senjata yang diumumkan pada September 2025 mencakup sejumlah poin utama, di antaranya pertukaran tahanan, penarikan bertahap pasukan Israel dari Jalur Gaza, pembentukan pemerintahan teknokrat, pengerahan pasukan stabilisasi internasional, serta pembahasan mengenai perlucutan senjata Hamas.
Hingga kini, proses negosiasi masih terus berlangsung dengan harapan seluruh pihak dapat mencapai kesepakatan yang memungkinkan implementasi penuh gencatan senjata serta mempercepat penyaluran bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Gaza.
Sumber : Gazamedia.net