NANGGROVA.MY.ID | KOTA GAZA – Pada awal Maret 1917, otoritas Kesultanan Ottoman mengeluarkan perintah evakuasi massal bagi seluruh penduduk Gaza. Dalam waktu hanya 48 jam, sekitar 35.000 hingga 40.000 warga diperintahkan meninggalkan kota menjelang pertempuran besar dalam Perang Dunia I.
Menurut berbagai catatan sejarah, perintah tersebut disampaikan secara tegas kepada seluruh penduduk. Bahkan warga yang tidak mampu berjalan tetap diwajibkan mengungsi. Akibatnya, salah satu kota terbesar di Palestina saat itu mendadak kosong.
Keputusan tersebut diambil oleh Komandan Ottoman, Djemal Pasha, yang ingin menghindari jatuhnya korban sipil ketika pasukan Inggris semakin mendekati Gaza. Sebelumnya, pada Januari 1917, Inggris telah merebut Rafah sehingga posisi Gaza berada dalam jangkauan serangan.
Banyak pria direkrut menjadi tentara Ottoman, sementara perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia mengungsi ke berbagai wilayah di Palestina hingga Suriah. Dalam perjalanan, banyak pengungsi menghadapi kelaparan, penyakit, dan cuaca buruk yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Gaza Menjadi Medan Tiga Pertempuran
Setelah kota dikosongkan, Gaza menjadi lokasi tiga pertempuran besar antara pasukan Inggris dan Kesultanan Ottoman sepanjang 1917.
Pertempuran Gaza Pertama berlangsung pada 26 Maret 1917. Pasukan Inggris sempat memasuki kota, namun mundur setelah komandan mereka memerintahkan penarikan pasukan karena kekhawatiran terhadap kondisi logistik. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Ottoman untuk memperkuat pertahanan.
Serangan kedua terjadi pada 17 April 1917. Inggris mengerahkan persenjataan yang lebih modern, termasuk tank dan peluru gas, namun tetap gagal merebut kota setelah mengalami korban yang lebih besar dibandingkan pihak Ottoman.
Dua kegagalan tersebut mendorong pemerintah Inggris mengganti komandan. Jenderal Archibald Murray dicopot dan digantikan oleh Jenderal Edmund Allenby.
Strategi Allenby dan Jatuhnya Gaza
Pada akhir Oktober 1917, Allenby menerapkan strategi baru dengan mengalihkan perhatian Ottoman melalui pemboman besar-besaran di Gaza, sementara serangan utama diarahkan ke Beersheba.
Setelah Beersheba jatuh pada 1 November 1917, posisi pertahanan Ottoman semakin melemah. Menyadari kota tidak dapat dipertahankan, pasukan Ottoman meninggalkan Gaza pada 6 November.
Beberapa hari kemudian, pasukan Inggris memasuki Gaza dan menemukan kota dalam keadaan kosong serta rusak akibat berbulan-bulan pertempuran dan pengeboman.
Bertepatan dengan Deklarasi Balfour
Jatuhnya Gaza terjadi hampir bersamaan dengan diumumkannya Deklarasi Balfour oleh Pemerintah Inggris pada awal November 1917. Deklarasi tersebut menyatakan dukungan Inggris terhadap pembentukan "tanah air nasional bagi rakyat Yahudi" di Palestina, yang kemudian menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah kawasan tersebut.
Sementara itu, ribuan warga Gaza masih berada di pengungsian dan belum mengetahui perubahan besar yang tengah terjadi.
Pemulihan yang Memakan Waktu Puluhan Tahun
Setelah perang mereda, warga mulai diizinkan kembali ke Gaza. Namun mereka mendapati rumah, bangunan, dan infrastruktur kota telah mengalami kerusakan parah akibat peperangan.
Berbagai catatan sejarah menyebutkan Gaza baru kembali mencapai jumlah penduduk seperti sebelum perang pada dekade 1940-an. Peristiwa pengosongan massal tahun 1917 pun menjadi salah satu episode penting dalam sejarah Gaza, yang menggambarkan besarnya dampak perang terhadap kehidupan masyarakat sipil.
Sumber: Gazamedia.net