Sabtu, 17 Oktober 2026 • 19:57 WIB
BREAKING
Gubernur Aceh Mualem Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan Pertanian hingga Pendidikan Dek Fadh Bersama Abu Paya Pasie dan Ketua DPRA, Temui Menko Polkam, Perkuat Sinergi untuk Aceh Mualem Upayakan Listrik Gratis di Huntara Korban Banjir Aceh Mualem Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda Aceh di Medan Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan HUT ke-27 Bireuen Resmi Ditutup dengan Tabligh Akbar, Bupati Mukhlis: Jadikan Bireuen Berselawat Ruh Pembangunan Dek Fadh Hadiri Peringatan Maulid di Dayah Terpadu Inshafuddin Kapolres Bireuen Hadiri Malam Apresiasi Seni Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen Plt. Sekda Aceh Buka Pelatihan Kode Etik Jurnalistik AMSI Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani Gubernur Aceh Mualem Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan Pertanian hingga Pendidikan Dek Fadh Bersama Abu Paya Pasie dan Ketua DPRA, Temui Menko Polkam, Perkuat Sinergi untuk Aceh Mualem Upayakan Listrik Gratis di Huntara Korban Banjir Aceh Mualem Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda Aceh di Medan Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan HUT ke-27 Bireuen Resmi Ditutup dengan Tabligh Akbar, Bupati Mukhlis: Jadikan Bireuen Berselawat Ruh Pembangunan Dek Fadh Hadiri Peringatan Maulid di Dayah Terpadu Inshafuddin Kapolres Bireuen Hadiri Malam Apresiasi Seni Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen Plt. Sekda Aceh Buka Pelatihan Kode Etik Jurnalistik AMSI Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani
ID EN
NANGGROVA.ID — Voice of Nanggroe
OPINI bolt BREAKING

Menyembuhkan Rasa Tertinggal di Tengah Dunia yang Serba Cepat

R
Redaksi NANGGROVA
• calendar_today Rabu, 07 Oktober 2026 • 20:47 WIB • schedule 6 mnt baca
Menyembuhkan Rasa Tertinggal di Tengah Dunia yang Serba Cepat
photo_camera Ilustrasi generasi muda yang menghadapi tekanan hidup dan rasa tertinggal di tengah dunia yang serba cepat.menemukan makna dalam proses dan belajar berdamai dengan perjalanan hidup. 7 Oktober 2026

NANGGROVA | BANDA ACEH – Ada masa ketika kita memulai hari dengan begitu banyak pikiran tentang masa depan. Kita membayangkan keberhasilan, mengejar target, menyusun rencana, dan berusaha memastikan bahwa hidup akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Namun, di tengah kesibukan itu, sering kali kita lupa bertanya kepada diri sendiri: apakah semua yang sedang kita kejar benar-benar memiliki makna?

Tidak sedikit orang menjalani hari dengan aktivitas yang begitu padat. Kuliah, bekerja, magang, membangun usaha, mengikuti organisasi, hingga menjaga eksistensi di media sosial. Waktu seolah tidak pernah cukup. Kita terus bergerak karena takut tertinggal, tetapi pada saat yang sama tidak benar-benar tahu ke mana arah yang sedang dituju.

Ironisnya, semakin cepat dunia bergerak, semakin banyak pula manusia yang merasa dirinya tertinggal.

Fenomena tersebut semakin terasa di kalangan generasi Z, generasi yang tumbuh dalam perkembangan teknologi dan media sosial yang begitu cepat. Bagi generasi sebelumnya, proses kehidupan mungkin lebih banyak berjalan secara bertahap. Namun, Gen Z hidup dalam lingkungan yang membuat hampir segala sesuatu terasa harus berlangsung secara instan.

Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Makanan bisa dipesan melalui telepon genggam dan tiba dalam hitungan menit. Komunikasi berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Bahkan pengakuan sosial dapat terlihat secara langsung melalui jumlah likes, views, komentar, dan pengikut.

Persoalannya muncul ketika kecepatan dunia digital tersebut secara tidak sadar dijadikan ukuran bagi kehidupan manusia.

Karier harus cepat berhasil. Keuangan harus segera stabil. Pendidikan harus segera selesai. Bisnis harus cepat berkembang. Bahkan pencarian jati diri seolah memiliki batas waktu.

Padahal, manusia tidak bekerja seperti algoritma.

Ada proses yang membutuhkan waktu. Ada kegagalan yang harus dilewati. Ada keputusan yang harus dipikirkan berulang kali. Ada masa ketika seseorang harus berhenti sejenak sebelum kembali berjalan.

Ketika Media Sosial Membuat Kita Merasa Tertinggal

Salah satu persoalan terbesar generasi muda hari ini adalah munculnya rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO).

Setiap hari, media sosial memperlihatkan kehidupan orang lain yang tampak jauh lebih maju. Seseorang berusia 22 tahun terlihat telah memiliki bisnis. Orang lain mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar. Ada yang mampu membeli rumah atau kendaraan. Sebagian lainnya telah membangun karier sebagai kreator konten.

Kita melihat pencapaian tersebut hanya dalam beberapa detik melalui layar.

Namun, kita hampir tidak pernah melihat proses panjang yang berada di baliknya.

Kita tidak melihat berapa kali mereka gagal. Kita tidak mengetahui berapa banyak masalah yang mereka hadapi. Kita juga tidak mengetahui apakah kehidupan yang terlihat sempurna di layar benar-benar mencerminkan kehidupan mereka secara keseluruhan.

Di sinilah perbandingan sosial menjadi berbahaya.

Kita mulai membandingkan bab pertama kehidupan kita dengan bab ke-20 kehidupan orang lain.

Ketika pencapaian pribadi belum sesuai dengan apa yang terlihat di media sosial, muncul perasaan bahwa diri kita tertinggal. Rasa tersebut kemudian berkembang menjadi kecemasan, rendah diri, bahkan hilangnya rasa syukur terhadap apa yang sebenarnya telah berhasil dicapai.

Padahal, setiap manusia memiliki garis waktu yang berbeda.

Ketika Produktivitas Menjadi Tekanan

Budaya serba cepat juga melahirkan apa yang dikenal sebagai hustle culture atau budaya bekerja tanpa henti.

Anak muda didorong untuk selalu produktif. Bangun pagi, bekerja, kuliah, membangun bisnis, mengikuti kegiatan, belajar keterampilan baru, hingga membangun personal branding.

Produktivitas memang penting. Namun, persoalannya muncul ketika nilai seseorang mulai diukur hanya berdasarkan seberapa banyak hal yang mampu ia hasilkan.

Manusia kemudian merasa bersalah ketika beristirahat.

Tidur dianggap membuang waktu. Libur dianggap tidak produktif. Berhenti sejenak dianggap sebagai kemunduran.

Pada titik tertentu, seseorang tidak lagi bekerja karena memiliki tujuan, tetapi karena takut dianggap tidak melakukan apa-apa.

Inilah yang membuat kelelahan generasi muda hari ini tidak selalu berupa kelelahan fisik. Ada kelelahan yang lebih dalam, yaitu ketika seseorang mulai kehilangan makna dari apa yang sedang dikerjakannya.

Hari-hari dipenuhi aktivitas, tetapi hati tetap merasa kosong.

Kita sibuk mempersiapkan masa depan hingga lupa menjalani kehidupan yang sedang berlangsung hari ini.

Rasa Tertinggal Tidak Hanya Terjadi dalam Kehidupan Pribadi

Fenomena tersebut juga dapat dilihat dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

Anak muda hidup dalam lingkungan yang menuntut perubahan cepat. Mereka ingin pendidikan membaik, lapangan kerja bertambah, ekonomi berkembang, pelayanan publik meningkat, dan kehidupan menjadi lebih adil.

Harapan terhadap perubahan tersebut merupakan sesuatu yang wajar.

Namun, ketika segala sesuatu dibiasakan untuk berlangsung secara instan, proses panjang sering kali dianggap tidak menarik.

Perubahan sosial dan pembangunan membutuhkan waktu. Demokrasi membutuhkan proses. Membangun institusi yang kuat membutuhkan konsistensi. Menciptakan kebijakan yang baik tidak dapat dilakukan hanya dengan keputusan yang cepat.

Di tengah situasi tersebut, anak muda juga dapat mengalami kekecewaan ketika melihat adanya jarak antara nilai yang mereka yakini dengan realitas yang terjadi.

Ketika kerja keras dan integritas seolah tidak selalu menjadi satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan, muncul rasa frustrasi dan skeptisisme terhadap masa depan.

Pada akhirnya, persoalannya kembali kepada satu hal: bagaimana manusia memaknai proses.

Belajar Melambat di Dunia yang Tidak Pernah Berhenti

Lalu, bagaimana kita menyembuhkan rasa tertinggal?

Jawabannya bukan dengan berlari lebih cepat.

Justru, kita perlu belajar melambat.

The art of slowness atau seni melambat bukan berarti menyerah terhadap kehidupan. Melambat bukan berarti menjadi malas, berhenti bermimpi, atau menolak perkembangan teknologi.

Melambat berarti mengambil kembali kendali atas waktu dan pikiran kita.

Pertama, kita perlu mendefinisikan kembali arti kesuksesan.

Keberhasilan seseorang di usia 20-an bukanlah batas waktu bagi kehidupan kita. Apa yang berhasil dicapai orang lain tidak otomatis menjadi ukuran kegagalan bagi diri sendiri.

Kedua, kita perlu belajar hadir di masa sekarang.

Masa depan memang penting untuk direncanakan, tetapi tidak boleh membuat kita kehilangan kesempatan untuk menjalani hari ini. Kegagalan hari ini tidak selalu berarti kehidupan kita gagal. Bisa jadi, itu merupakan bagian dari proses yang sedang membentuk diri kita.

Ketiga, kita perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis.

Tidak semua hal yang terlihat di media sosial harus dipercaya. Tidak semua kesuksesan yang ditampilkan merupakan gambaran kehidupan yang utuh. Dan tidak semua jalan pintas akan membawa kita kepada tujuan yang benar.

Perubahan yang kuat membutuhkan akar.

Sama seperti pohon yang membutuhkan waktu untuk tumbuh dan menguatkan akarnya, manusia juga membutuhkan proses untuk membangun karakter, pengalaman, kemampuan, dan ketahanan mental.

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memulai

Pada akhirnya, menyembuhkan rasa tertinggal bukan tentang bagaimana kita mengejar orang lain.

Menyembuhkan rasa tertinggal adalah tentang menyadari bahwa mungkin sejak awal kita berada di jalur perlombaan yang bukan milik kita.

Dunia akan terus bergerak cepat. Media sosial akan terus memperlihatkan pencapaian orang lain. Tren akan terus berganti. Standar kesuksesan akan terus berubah.

Namun, kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana menjalani kehidupan sendiri.

Ada kalanya kita harus berlari. Ada kalanya kita harus berjalan. Dan ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak untuk menarik napas.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang pertama yang sampai di garis akhir.

Hidup adalah perjalanan untuk memahami siapa diri kita, apa yang kita perjuangkan, dan mengapa kita memilih untuk terus berjalan.

Maka, jika hari ini kita merasa tertinggal, mungkin kita tidak benar-benar tertinggal.

Mungkin kita hanya sedang tumbuh dengan kecepatan yang berbeda.

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Karena pada akhirnya, pencapaian kecil yang kita syukuri hari ini bisa jauh lebih bermakna daripada kesuksesan besar yang kita kejar hanya karena takut dianggap tertinggal.

Kita tidak harus selalu berlari. Sesekali, berjalanlah pelan. Nikmati prosesnya. Sebab hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang seberapa bermakna perjalanan yang kita jalani.

Hizqil Syauqi
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling

share Bagikan:

BERITA TERKAIT

campaign PASANG IKLAN ANDA DI SINI verified Jangkau Ribuan Pembaca Setiap Hari WA 0821-8337-5860 newspaper NANGGROVA.ID — Portal Berita Terpercaya campaign PASANG IKLAN ANDA DI SINI verified Jangkau Ribuan Pembaca Setiap Hari WA 0821-8337-5860 newspaper NANGGROVA.ID — Portal Berita Terpercaya